Sejarah kubah, Kubah Masjid Murah, Kubah Panel, Kubah Enamel

Menilik sejarah kubah di Indonesia

Menilik sejarahnya, membahas kubah di muka Bumi telah sangat tua. Namun, layaknya di Indonesia belum cukup lama. Kubah baru muncul di Tanah Air pada abad ke-18. Bahkan di Jawa, atap masjid baru muncul pada pertengahan abad ke-20 M.

Meskipun sudah sejak lama rumah adat suku Dani di Papua, Honai, mengenal bentuk kubah, hanya saja kubah ini dibangun dengan sangat mudah menggunakan rumbai. Masjid-masjid di Indonesia, sebagian besar di Jawa, mulai tidak menggunakan kubah pada bagian atapnya, tetapi menggunakan bentukbentuk minimalis dan berundak yang biasa digunakan pada saat Hindu. Masjid Agung Demak misalnya tampil dengan atap berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas masjid ini terdiri atas tiga bagian yang merepresentasikan iman, Islam, dan ihsan. 

 

Masjid Agung Banten juga memiliki atap tanpa kubah. Atap bangunan mendukung bertumpuk lima, mirip pagoda Cina. Hal ini dimungkinkan karena arsitek masjid ini berasal dari Cina yang bernama Tjek Ban Tjut. Masjid tradisional di Kalimantan yang mendukung arsitektur lokal juga memiliki kubah. Kesamaan dari semuanya hanya satu, selalu ada titik tertinggi di bangunan yang menjadi penunjuk fungsi sebagai ruang sakral. Kubah baru diadopsi oleh masjid di Indonesia pada masa kekuasaan Yang Dipertuan Muda VII, Raja Abdul Rahman (1833-1843). Struktur kubah diterapkan pada Masjid Sultan di Riau. Namun, Pijper dalam Studien atas de geschiedenis van de Islam, masjid pertama di Jawa yang menggunakan kubah ada di Tuban, yang peletakan batu dilakukan pada 1894. 

 

Munculnya kubah yang menyebabkan pecahnya perang antara Rusia dan Kesultanan Turki Utsmani yang terjadi pada 1877-1878. Saat itu pula, Kekaisaran Utsmani melancarkan gerakan budaya, termasuk memperkenalkan jenis masjid baru. Gerakan ini pun menuju Asia Tenggara, “Masjid tradisional masjid beratap tumpang di ganti masjid kubah dengan menara-menara gaya Timur Tengah atau India Utara”, tulis Peter JM Nas Akhirnya, lambat laun kubah menjadi simbol arsitektur Islam paling modern, yang seakan-akan wajib ada di masjidmasjid baru di Asia Tenggara. 

Perubahan tersebut, misalnya, terjadi di Masjid Baiturrahman di Banda Aceh. Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada 1612. Setelah dibangun pada masa penjajahan Belanda, masjid ini dibangun kembali pada tahun 1879 dan rampung dua tahun kemudian dengan tambahan tujuh buah kubah. Perubahan juga ditambahkan pada menara Masjid Banten. Masjid Agung Ambon yang dibangun pada 1837 juga dibangun kubah. 

sumber: Pusat Data Republika

Artikel Terbaru